Urgensi “Nation And Character Buliding” Bagi Indonesia


Beberapa hari lalu kita memperingati sebuah hari yang dianggap bersejarah dan punya makna besar bagi Indonesia, hari Pahlawan. Sebuah hari dimana begitu besarnya pengorbanan yang diberikan para pendahulu kita. Hari dimana semangat melepaskan diri dari belenggu penjajahan sangat besar.

Konteks kepahlawanan yang ada pada waktu itu (saat Indonesia belum merdeka) sangat terkait dengan usaha meraih kemerdekaan. Pada saat itu, semua elemen yang ada di Indonesia bersatu, tanpa mempedulikan suku, agama dan golongan mana mereka berasal. PKI yang melancarkan pemberontakan kepada Belanda pada tahun 1926, golongan Islam, nasionalis yang juga melancarkan perlawanan terhadap penjajah. Hal itu terjadi karena kita berada pada satu kondisi yang sama, yaitu ketertindasan yang terakumulasi dari penjajah. Walhasil, perjuangan yang yang dilakukan membuahkan hasil yang gemilang, kemerdekaan. Walaupun kemedekaan Indonesia dicapai melalui proses yang sangat panjang dan pengorbanan yang besar. Namun jika kita telaah lebih dalam, kemerdekaan Indonesia bukanlah hasil dari sebuah perjuangan bangsa yang mempunyai karakter seragam (baca: bangsa Indonesia), tetapi disebabkan oleh sebuah perasaan senasib sebagai kelompok masyarakat yang tertindas oleh sebuah common Enemy (penjajah). Karena secara kultur, rakyat Indonesia berasal dari latar belakang budya yang berbeda-beda/

Pasca Indonesia merdeka, kondisi yang diharapkan tidak kunjung tercapai. Kemerdekaan yang diharapkan membawa angin segar justru membawa kondisi yang tak jauh berbeda. Hingga sekarang, Indonesia sebagai sebuah bangsa belum mengalami perubahan yang signifikan dalam konteks pencapaian masyarakat adil dan makmur.

Pertanyaan mendasar yang muncul, apakah konsep kebangsaan yang kita agung-agungkan sudah mengakar dalam masyarakat Indonesia? Benedict Anderson dalam Bukunya Imagine Community mempunyai analisa bahwa Indonesia sebagai sebuah bangsa belum terbentuk. Konsep kebangsaan yang sekarang ada, hanya dipahami oleh para para pemimpin-pemimpin Indonesia, tanpa dibarengi pemahaman yang mengakar pada rakyat Indonesia secara keseluruhan. Hal ini yang membuat rakyat Indonesia yang sangat plural, mempunyai pandangan yang berbeda-beda mengenai Indonesia. Ditambah lagi, pola-pola pemahaman yang dibangun oleh rezim pemerintahan Indonesia (terutama Soeharto) bersifat represif dan doktinatif. Sehingga semangat kebangsaan yang terwujud hanyalah semangat kengsaan yang sifatnya semu dan diada-adakan.

Kesalahan fatal pemerintah Indonesia, dari zaman awal kemerdekaan hingga sekarang adalah tidak dilakukannya Nation and Character Building (pembentukan watak dan kepribadian bangsa) terhadap rakyat Indonesia secara rii dan mengakar . Tetapi yang justru dilakukan adalah membangun mitos-mitos baru, yang intinya mendengungkan bahwa rakyat Indonesia adalah satu, tanpa mampu membuktikannya secara nyata. Padahal dalam kenyataan, masih terdapat diskriminasi-diskriminasi dalam hal pemerataan pembangunan di daerah-daerah. Misalnya, orientasi pembangunan yang begitu terpusat di Pulau Jawa, sementara daerah-daerah lain tidak mendapatkan perlakukan yang sama.

Kesalahan lain yang dilakukan Indonesia adalah ketergantungan Indonesia terhadap adanya Common Enemy/”musuh bersama” (seperti penjajah), sehingga ketika musuh bersama ini hilang maka semangat kebangsaan ini akan segera luntur. Ketika kita dijajah Belanda selama 350 tahun, Indoensia bersatu, namun ketika Belanda hengkang yang terjadi adalah pertarungan dengan bangsa sendiri, ketiak Soeharto berkuasa kekuatan pro-Demokrasi bersatu, namun ketika Soeharto “lengser” Indonesia kehilangan arah dan cenderung terjebak dalam transisi menuju demokrasi yang tak berkesudahan.

Belum terbentuknya Indonesia sebagai sebuah bangsa, membuat Indonesia selalu tidak balance dalam menjalankan roda peri kehidupan. Karena itu diperlukan sebuah strategi untuk membentuk watak dan kepribadian bangsa (Nation and Character Building).

Nation and Charcter Building: Darimana kita harus memulai?

Secara konseptual, pembentukan karekter dan keperibadian bangsa diarahkan pada terciptanya kesadaran rakyat Indonesia sebagai sebuah konstruk masyarakat yang plural yang berada pada suatu koridor bersama yang diciptakan bersama-sama. Pembentukan karekter dan kepribadian bangsa ini tidak bisa hanya mengandalkan mitos-mitos yang berupa jargon-jargon politik yang sifatnya “mengawang” tetapi harus berupa sesuatu yang nyata dan dirasakan oleh rakyat implikasinya. Berbicara karekter dan kepribadian, berarti kita berbicara pembentukan budaya (budaya dalam arti sebuah hasil dari rekayasa sosial yang ada dalam masyarakat). Dalam konteks negara, ada sebuah peran yang harus diambil oleh negara untuk turut andil dalam proses rekayasa ini diimbangi oleh partisipasi rakyat sebagai sebuah tool of control. Lalu darimanakah kita harus memulai? Pertanyaan ini menunjuk pada cara dan bidang manakah yang kita jadikan entry point untuk bersama-sama membentuk karekter dan kepribadian bangsa. Salah satu bidang yang dapat kita kita jadikan entry point adalah pendidikan. Karena pendidikan merupakan suatu fondasi bagi sebuah bangsa yang ingin membangun dan merupakan suatu proses yang tak pernah berhenti untuk membangun karekter anak bangsa (selain sebuah alat untuk mentransfer ilmu pengetahuan) dan imbasnya pembentukan kultur suatu bangsa. Seperti apa yang terjadi di Jerman setelah perang dunia pertama, dimana pendidikan dijadikan prioritas utama dalam kebijakan pemerintah Jerman pada saat itu, berhasil membuat negaranya maju. Hal ini dikatakan oleh Roem Topatimasang dalam buku “Sekolah itu Candu”, ketika pada suatu Pameran antar negara-negara di Eropa- Amerika diadakan (pasca Perang Dunia Pertama), Jerman hanya mampu memamerkan barang-barang hail kerajinan tangan, namun 50 tahun mendatang Jerman sudah mempu memamerkan barang-barang berbasis teknologi tinggi, sperti mobil, dan lain-lain.

Di Indonesia 57 tahun merdeka, pendidikan masih dijadikan bidang yang mendapat prioritas ke sekian di antara bidang-bidang lain. Selain itu pendidikan hanya dijadikan sebuah alat untuk menjaga kekuasaan Status Quo. Pendidikan dijadikan alat penjaga ideologi penguasa, Louise Althusser mengatakannya sebagai Ideological State Aparatus. Dalam konteks pembentukan karakter dan kepribadian bangsa, pendidikan diarahkan untuk memberikan ruang bagi anak bangsa dalam mengekspresikan dirinya secara luas. Sehingga terbentuk karekter anak bangsa yang mandiri, kreatif dan kritis.

Salah satu syarat yang harus dipenuhi adalah pendidikan harus dapat diakses oleh seluruh rakyat Indonesia secara mudah (pendidikan populis), tidak seperti sekarang, pendidikan hanya bias dinikmati oleh sebagian kecil orang. Selain itu pendidikan harus juga bersifat demokratis, artinya berusaha menciptakan karekter dan kepribadian anak bangsa yang mampu menghargai pluralitas, mengormati sesama dan mampu menerima adanya perbedaan pendapat.

Saatnya Muncul Pahlawan-Pahlawan Muda Terdidik

Jika kita hubungkan nilai-nilai kepahlawanan dengan pendidikan dalam konteks Nation and Charcter Building, maka akan terwujud suatu tatanan masyarakat yang berkebangsaan yang nyata dirasakan. Indonesia sebagai sebuah bangsa bukan lagi sebagai sebuah mitos atau khayalan (Imagine Community), akan tetapi akan menjadi sebuah bangsa yang nilai-nilai, karekter dan kepribadiannya mengakar pada seluruh rakyat Indonesia. Semangat kepahlawanan tidak lagi hanya berwjuud mengangkat senjata Akan tetapi semangat kepahlawanan yang ditopang oleh kemampuan intelektualitas dalam diri anak bangsa yang berwujud kemampuan konkrit disertai komitmen yang secara masif diorientasikan untuk memajukan bangsa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s